| S |
ahabat itu bukan berapa lama kita berteman, berapa lama kita berhubungan dan berapa lama kita bersama. Tetapi berapa banyak pengorbanan, rasa iklas, tanggung jawab serta saling jujur antara satu dan yang lainnya. Intensitas kebersamaan yang sering tidak menjamin suatu persahabatan akan terjadi atau langgeng. Banyak kejadian dan contoh yang dapat kita petik di dalam keseharian kita. Misalnya seorang sahabat merasa terhianati ketika mantannya berpaling pada sahabatnya, dan menikah dengan sahabatnya. Dari sanalah muncul perasaan benci karena dihianati. Kalo boleh dicerna dengan baik dengan akal sehat, dia sudah tidak ada hubungannya dengan sang cowok, dia sudah tidak berhak atas kehidupan si cowok. Kenapa harus membenci? Kenapa harus menghujat si mantan sahabat? Dan kenapa harus menjelek-jelekkan bahkan menghina? Padahal kelakuan dia sama dengan sahabatnya itu. alhasil disaat pernikahan si mantan sahabat dan mantannya, dia tidak diundang dengan satu undangan (berbagi dengan sahabat barunya). Jadi sahabat tidak selamanya abadi, kadang ada hal yang menurut logika “aneh” menjadi suatu masalah besar yang sebenarnya tidak pantas untuk diributkan. Dalam persahabatan diharapkan jauhkan sifat egois dan pupuklah sikap saling percaya dan jujur antara satu sama lain. Itu akan mengurangi kesalahpahaman. Intinya adalah percaya pengertian serta tanggung jawab. Percaya disini adalah mempercayai apa yang dikatakan oleh sahabat kita, walaupun kita tidak tahu apakah dia jujur atau tidak, tapi percayalah jika dia bohong maka karma itu akan datang padanya, belajarlah jujur pada diri sendiri, tanamlah sifat jujur dan terbuka, serta mampu untuk berbicara. Pengertian disini adalah mengerti segala kelebihan dan kekurangan sahabat agar tidak terjadi sifat iri di dalam hati, ini terkadang sering terjadi dalam suatu hubungan persahabatan, mengerti bahwa sahabatmu itu memiliki segala sifat yang mungkin berbeda dengan kamu. Tanggung jawab disini adalah konsisten dalam hubungan persahabatan, ketika kita sudah mengakui dia adalah sahabat, ketika kita sudah memberi predikat bahwa “dialah sahabatku”, kita harus konsisten bahwa dia sahabat kita, jangan ada keraguan, sebab orang lain ketika sudah mendapat kepercayaan bahwa kita sudah bersahabat dan dilain hari kita mengatakan “kata siapa dia sahabatku”, itu akan membuat sahabat kamu kecewa lebih dari yang kamu bayangkan. Dia akan berubah 180 derajat ketika bertemu denganmu, akan terjadi sindiran. Bertanggung jawablah pada suatu hubungan persahabatan.
Ketika kita merasa seseorang mampu membuat kita nyaman dengan keadaan, nyambung dengan kita, apapun yang dia lakukan dan kerjakan menurutmu sangat menyenangkan janganlah kamu langsung berpikir bahwa dia bisa menjadi sahabatmu. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan bahwa dialah sahabatmu, karena itu adalah tanggung jawab. Ketika tenggung jawab itu terhianati akan menyebabkan sakit yang luar biasa dan rasa benci. Dan kebencian itu tidak bisa dikontrol dengan akal manusia, kalau kamu mau dosa kamu bertambah silahkanlah membenci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar